Judi Online Mengintai Pelajar, Ketua DWP Kemenag Mukomuko Beri Peringatan Keras di MPLS

oleh -77 Dilihat
oleh
Suji Darti Widodo mengajak siswa SMPN 10 Mukomuko menolak judi online: gadget untuk belajar, bukan taruhan. Bangun literasi digital, cegah kecanduan, lindungi masa depan generasi muda.-Foto:s.man/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,– Di tengah gemerlap layar gawai dan derasnya arus informasi digital, ancaman terbesar bagi generasi muda kerap hadir dalam rupa yang paling menggoda: uang instan, hadiah mudah, dan keberuntungan tanpa kerja keras. Namun, di balik kilau itu, jurang kehancuran menganga.

Kesadaran itulah yang mendorong Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Kabupaten Mukomuko, Ny. Suji Darti Widodo, S.H.I., untuk turun langsung ke SMP Negeri 10 Mukomuko. Di hadapan puluhan siswa baru yang masih polos dengan seragam putih-putih, ia membongkar satu per satu bahaya laten judi online yang kini bukan lagi musuh di balik pintu, tapi telah menyusup ke dalam genggaman tangan mereka.

“Anak-anak harus paham, tidak ada kemenangan abadi dalam judi. Yang ada hanya jerat,” ujar Suji Darti dengan nada tegas saat memberi materi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (15/7/2026).

Ia tak sekadar menyampaikan teori. Dengan gaya komunikasi yang dekat dan lugas, perempuan yang juga aktif dalam pembinaan karakter pelajar itu memaparkan sisi gelap yang jarang terlihat: kecanduan yang merusak sistem saraf, fokus belajar yang buyar hingga nilai-nilai anjlok, dan yang lebih mengenaskan, hubungan keluarga yang retak karena ulah tangan sendiri.

Menurut data yang ia kutip dari berbagai sumber, akses judi online kini hanya berjarak satu klik dari anak remaja. Lewat tautan di media sosial, iklan terselubung, bahkan grup obrolan, mereka bisa terjebak tanpa sadar berawal dari iseng, lalu candu, lalu tenggelam.

“Jangan pernah mencoba, meski hanya sekali. Karena rasa penasaran adalah pintu masuk paling licik menuju kecanduan,” ingatnya. “Gawai kalian adalah alat untuk belajar, menggali ilmu, dan meraih prestasi bukan untuk bertaruh dengan masa depan sendiri.”

Sesi yang berlangsung sekitar satu jam itu tak berjalan satu arah. Para siswa tampak antusias, bahkan di sesi tanya jawab, sejumlah pertanyaan kritis muncul: bagaimana membedakan game online dengan judi? Apa ciri-ciri iklan yang mengarah ke praktik terlarang ini? Suji menjawab satu per satu dengan sabar, membuka cakrawala bahwa literasi digital bukan sekadar bisa menggunakan teknologi, tapi mampu memilah mana yang membangun dan mana yang membakar.

Kepala sekolah SMPN 10 Mukomuko yang turut mendampingi mengapresiasi langkah DWP Kemenag. “Materi ini sangat relevan dan nyata. Bukan sekadar seremonial, tapi kebutuhan darurat di era serba digital,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, Suji berpesan: “Jadilah generasi yang cerdas. Bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi cerdas memilih, cerdas menolak, dan cerdas melindungi diri. Masa depan kalian terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam hal-hal yang hanya menguntungkan bandar, bukan kalian.”

Harapannya, pesan itu tak hanya menggema di ruang kelas, tetapi menetap dalam benak setiap siswa menjadi benteng ketika godaan itu datang lagi, dengan wajah baru, di lain hari.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.